Home / Artikel / BERKAT ULAMA, SEMANGAT CINTA TANAH AIR TUMBUH DI HATI PEJUANG

BERKAT ULAMA, SEMANGAT CINTA TANAH AIR TUMBUH DI HATI PEJUANG

MALANG – Berjuang untuk mempertahankan kedaulatan negara merupakan kewajiban yang menjadi bagian dari keimanan kepada Allah. Seruan ini dikobarkan oleh para ulama kepada kaum muslimin Indonesia. Karena semangat itu pula, hari Pahlawan dikenang setiap 10 November. Hampir setiap sekolah maupun instansi  memperingatinya dengan upacara atau kegiatan yang lain. Meski demikian tak banyak yang mengetahui secara mendalam fakta dan makna di balik peristiwa tersebut.

“Ini seakan menjadi panggilan yang arahnya vertikal, sebab rasanya sulit berjuang jika hanya semata-mata mempertahankan negara tanpa landasan iman yang menjadi powernya. Maka sesugguhnya para kyai dan ulama tidak hanya mengurus agama saja, juga mengajarkan kepada para santri, termasuk Bung Tomo, sikap nasionalisme yang kuat dalam mempertahankan kedaulatan Negara dan keutuhan NKRI,” ungkap Kepala SD Plus Al-Kautsar Dhiah Saptorini, S.E M. Pd.

Untuk itu ia berharap, muatan Cinta Tanah Air dalam kurikulum sekolah bisa ditambah. Di SD Plus Al-Kautsar selama ini telah memadukan antara nilai nasionalis dengan agamis. Sehingga yang diharapkan terwujudnya generasi yang religius namun juga memiliki jiwa nasionalisme.

“Cuma untuk mencapai tujuan tersebut dengan muatan kurikulum yang ada saat ini juga masih kurang, perlu adanya muatan tambahan untuk memperkaya materi sehingga terjadi pemahaman yang lebih mendalam,” katanya.

 

Sebagai lembaga bernuansa Islam, Al-Kautsar menyisipkan nilai-nilai nasionalisme di berbagai momen keislaman. Misalnya dalam peringatan Maulid yang tidak hanya menceritakan kisah kelahiran Nabi Muhammad, tapi juga mengajarkan perjuangan Nabi yang berkaitan dengan kenegaraan.

Sebagai praktisi pendidikan, ia seringkali meninjau buku-buku sejarah yang ada hingga saat ini. Ia juga melakukan riset dari hasil penelitian para dosen UIN Syarif Hidayatullah maupun UIN Maliki Malang. Menurutnya, ada yang kurang dalam muatan materi yang diajarkan pada siswa. Yaitu semangat patriotisme yang tidak sempat diakomodir dan terekspose dalam buku meskipun telah populer di kalangan masyarakat tertentu.

Misalnya di balik peringatan Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober setiap tahunnya, ternyata ada banyak fakta menarik.  Seperti yang telah dijelaskan bahwa gerakan para santri diawali dengan turunnya fatwa KH. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh Islam terkemuka.

Dengan berbahasa Jawa Kuno, fatwa tersebut berisi tiga hal. Pertama, setiap muslim wajib memerangi kaum kafir yang merintangi pemerintahan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam kemerdekaan Indonesia layak dianggap syuhada. Dan ketiga, warga yang memihak pada Belanda dan dianggap memecah belah persatuan dan kesatuan harus dihukum mati.

Tiga fatwa ini yang menjadi motivasi berkobarnya resolusi jihad di lingkungan ulama, para santri dan seluruh rakyat Indonesia khususnya yang muslim. Pertempuran dimulai pada 27 Oktober saat tentara Inggris mulai menyerang. Hingga terjadilah pertempuran terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia yang menjadi rentetan perjuangan rakyat Surabaya pada peristiwa penyobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya, 10 November 1945.

“Kekuatan yang besar ini harus diketahui bahwa yang menggerakkan adalah ulama. Yang bahkan negarawan pun tak akan mampu menggalang kekuatan sedemikian besarnya. Para ulama saat itu melakukan ijtihad dengan dalil-dalil baik Alquran maupun hadits, sehingga lahirlah hukum yang mewajibkan kaum muslimin untuk membela Tanah Air mereka dari ancaman penjajah kafir,” tuturnya. (Malang Pos, 13/11/2016)

About

Check Also

SISWA SD PLUS AL-KAUTSAR MALANG NOMOR EMPAT ASIA, BERSIAP KE BRASIL

SISWA SD PLUS AL-KAUTSAR MALANG NOMOR EMPAT ASIA, BERSIAP KE BRASIL MALANG Kedatangan Aqila Ghaida …

Leave a Reply