Home / Frequently Quastion Ask (FQA)

Frequently Quastion Ask (FQA)

Pertanyaan :

 Saya adalah seorang ibu yang berprofesi sebagai guru. Kenapa ya Bu kalau saya mengajari murid-murid saya bisa berhasil, tapi mengajari anak saya sendiri tidak bisa berhasil. Mohon tanggapan dan masukannya.

 

Jawaban:

 Selamat karena ibu adalah guru yang berhasil. Keberhasilan ibu dalam mengajari murid-murid saya pastikan karena ibu menggunakan rasa empati, berusaha memahami kesulitan para murid dan sekuat tenaga membantunya keluar dari kesulitan tersebut. Sedangkan ketika mengajari Ananda tercinta, Ibu  menggunakan rasa simpati, berusaha memenuhi semua keinginan Ibu demi kebaikan Ananda. Saran saya singkat saja Ibu. Karena di sekolahnya Ananda sudah diajar oleh guru sebagaimana Ibu mengajar murid-murid Ibu, maka ketika di rumah jadilah seorang ibu saja. Ananda membutuhkan ibu dan bukan guru tambahan. Selain itu penting untuk berbagi peran dengan guru di sekolah Ananda, sebagaimana orangtua di sekolah ibu juga berbagi peran dengan ibu.

 

Pertanyaan :

Anak saya kelas 3 SD. Dari segi kognitif anak saya termasuk yang unggul, terutama dalam hal berhitung. Namun anak saya tidak memiliki percaya diri bahwa dirinya mampu menjawab soal yang diberikan gurunya. Bagaimanakah cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak saya? Terimakasih atas masukan ibu.

 

Jawaban:

Salam. Bunda yang berbahagia. Selamat ya memiliki putra yang membanggakan. Saya yakin ananda tidak hanya mampu berhtung, tapi dia juga pasti punya banyak keunggulan lain. Tapi tampaknya Bunda sudah cukup bangga dia unggul dalam hal berhitung, sehingga tidak perlu mengeksplor keunggulan lainnya.

Rasa percaya diri akan muncul bila ananda yakin dia dapat memenuhi harapan Bunda. Tetapi bila dia ragu, maka rasa percaya diri juga akan hilang. Nah, apakah Bunda menetapkan standar tertentu bagi kemampuan berhitung ananda? Bagaimana reaksi Bunda selama ini bila ananda tidak dapat mencapai standar itu?

Saat usia ananda seperti sekarang yang dibutuhkannya adalah pengakuan tentang eksistensi dirinya, dan bukan dirinya yang lekat sepaket dengan prestasinya. Apalagi bila prestasi itu sedikit banyak dipilihkan oleh orang lain bisa bunda, ayah, nenek, atau lainnya. Untuk itu cobalah Bunda melihat ananda secara utuh, dengan mengeksplor sebanyak mungkin keberbakatan ananda. Dia bisa berprestasi di bidang apa saja dan kapan saja. Insya Allah perlahan-lahan akan muncul rasa percaya dirinya. Selalu sabar ya Bunda, karena hasil kesabaran Bunda mendidiknya tidak bisa dilihat dalam waktu dekat, tetapi jauh di depan.

Anak adalah bintang bagi orangtuanya. Bintang akan selalu bersinar. Setidaknya di hati Bunda. Salam untuk ananda ya!

Wassalam.

 

Pertanyaan :

Saya seorang ibu yang bekerja dengan 2 putra. Anak saya yang pertama sering berkata buruk dan jorok serta berteriak-teriak, sedangkan anak kedua saya tidak demikian.

Dirumah saya sudah berusaha untuk memberikan teladan yang baik, namun tetap saja anak saya berperilaku seperti itu.

Mohon ibu memberi solusi bagaimana cara untuk mengubah perilakunya tersebut?

Terimakasih atas tanggapan ibu.

 

Jawaban:

Salam.

Bunda yang baik, saya hanya bisa membantu menemukan masalahnya. Dengan itu semoga bunda bisa menemukan solusi yang terbaik untuk kedua ananda tercinta.

Coba diingat kembali, apa yang sudah bunda dan ayah terapkan kepada ananda putra pertama (saya sebut P untuk memudahkan) untuk menyambut kehadiran ananda putra kedua (saya sebut K ya). Apa yang sudah dinasehatkan pada ananda P? Sejauh mana ananda P dilibatkan bersama dengan ananda K yang masih berada dalam kandungan? Lalu bagaimana perlakuan bunda kepada ananda P saat adiknya lahir? Adakah perubahan sikap dan perilaku yang Bunda minta untuk dilakukannya terkait kehadiran anggota baru keluarga? Apakah penanganan bunda kepada ananda P tidak berubah?

Kalau boleh saya ringkas, perilaku ananda P adalah untuk menarik perhatian bunda, dan tidak ingin bunda memperhatikan selainnya. Meskipun bunda merasa memperlakukan ananda P tetap seperti sebelum ada adiknya, tetapi ananda P merasa ada yang mengancam posisinya di sisi bunda. Tampaknya ananda P belum siap menerima kehadiran adik K. Dan ananda P belum memiliki cara untuk menyampaikan perasaannya ini dengan tepat. Dia hanya tahu ketika dia melakukan hal-hal yang menurut bunda kurang baik itu, dia mendapat waktu dan perhatian dari bunda. Meskipun di usianya saat ini, tentunya ananda P juga belum memahami bahwa perilakunya ini merugikan dirinya. Ananda P juga belum memahami semua nasehat dan teladan yang ditunjukkan bunda. Ingatlah, ego anak-anak seusia P masih sangat tinggi. Dia hanya tahu yang dia mau, yang dia lakukan, dan yang dia dapatkan dengan perilaku itu.

Saran saya, sebelum bunda menemukan solusi yang tepat, berikan perhatian khusus dan lebih kepada ananda P. Tidak hanya saat dia berkata jorok dan berteriak-teriak saja, tetapi justru di saat-saat beraktivitas sehari-hari. Lebih banyak melibatkan dan mengurangi tuntutan terkait kedudukannya sebagai kakak. Tentang berkata joroknya, buatlah aturan yang jelas yang berlaku untuk semua anggota rumah, tanpa harus menjelaskan arti dari kata-kata itu dan alasan tidak boleh menggunakannya.

Dan yang perlu dipahami, bahwa setiap aturan baru, budaya baru, selalu membutuhkan waktu dan konsistensi untuk melihat hasil yang barangkali hanya akan tampak sedikit sekali. Tetap sabar ya Bunda. Sambil hadiahkan bacaan ummul kitab di saat ananda menjelang tertidur dengan iringan doa semoga ananda P menjadi anak sebagaimana harapan bunda. Mudah-mudahan Allah membantu bunda menemukan solusi terbaik untuk masalah ini. Amiien.

Wassalam.

 

Pertanyaan :

Saya seorang ibu dari putri yang sekarang duduk di kelas 4 SD. Sejak kecil, anak saya lebih sering bersama ayahnya daripada dengan saya karena saya bekerja di luar kota. Suami saya cenderung memenuhi semua keinginan anak karena anak saya sering sakitsakitan. Suami saya juga selalu memanjakan anak saya dan selalu melindunginya meskipun ia melakukan kesalahan. Sekarang, meskipun anak saya sudah kelas 4 ia kurang mandiri, tidak memiliki teman dan selalu menangis apabila diganggu oleh temannya, nilai pelajarannya pun selalu di bawah rata-rata. Pertanyaan saya, apakah perilaku anak saya tersebut bisa diubah mengingat ia sudah kelas 4 SD? Mohon ibu memberi solusi bagaimana cara untuk mengubah perilaku anak saya tersebut. Terimakasih

 

Jawaban:

Salam bunda. Mungkin kita perlu sepakat dengan masalah yang dialami ananda. Memang untuk anak usia 9-10 tahun seharusnya masuk ke masa-masa berkelompok. Ananda akan mulai memiliki sahabat lebih dari 1 anak sampai 5-6 anak. Keberadaan kelompok ini menjadi sangat penting baginya, sehingga ayah dan bunda diharapkan tidak menunjukkan sikap menolak kepada kelompoknya. Namun yang terjadi. Ananda justru tidak punya teman, yang artinya sampai di periode ini perkembangan social ananda belum sesuai dengan usianya. Apakah hal ini masih bisa diubah? Tentu saja sangat bisa, asalkan bunda dan ayah bisa menjadi 1 tim yang kompak, dan kita sepakat untuk mengatasi masalah ini. Yang paling diperlukan adalah komitmen orangtua untuk melakukan beberapa perubahan pola asuh dan pola didiknya, konsisten melakukannya, dan sabar menunggu hasilnya. Yang bisa dilakukan: (1) Tidak melabel anak sampai anak akhrnya menerima label itu seperti sakit-sakitan, cengeng, penakut, pemalu, dan sebagainya. Kalau ananda sakit, ya diobati saja, semakin sering sakit semakin sering mengobati. Dan hanya itu. Penting untuk memeriksakan kondisi kesehatan ananda secara menyeluruh dengan teliti, sehingga bisa ditemukan masalah dan cara mencegah/menghindari sakit, tanpa terjebak menjadi over protective. Contohnya, bila ananda alergi terhadap satu jenis makanan, bukan berarti dia harus steril terhadap makanan itu. Melatihnya mengonsumsi makanan tersebut dalam jumlah sedikit dan masa yang tidak berdekatan perlu dilakukan, karena bagaimanapun tubuh memiliki sistem adaptasi. (2) Tidak perlu tersandera dengan perasaan bersalah karena sering meninggalkan ananda bersama ayahnya, kalau hal itu memang harus dilakukan. Namun tetap harus diingat bahwa fungsi seorang ayah lebih kepada nature (melindungi) dan bukan nurture (mengasuh). Bagaimanapun ayah tidak bisa melakukan fungsi pengasuhan sebaik bunda, sehingga bunda dan ayah tidak perlu saling menyalahkan, malah harus selalu saling mendukung dan bekerja dalam 1 tim, sehingga ananda tidak perlu merasa ada yang kurang dalam memdapatkan perhatian dan kasih sayang. Tetaplah berbagi otorita pengasuhan dengan ayah, meskipun tidak harus sampai menjadi semacam wilayah yang tidak bisa bercampur sama sekali. (3) Selalu membantu anak hanya akan melumpuhkan kemampuan menyelesaikan masalah yang dimilikinya. Kegagalan dan kekecewaan adalah obat mujarab meletupkan kecerdasan emosional dan sosialnya. Dalam hal demikian kritikan (yang membangun sekalipun) bukan hal yang dibutuhkan oleh ananda. Alih-alih membantu, ayah dan bunda bisa memberikan petunjuk atau deskripsi bagaimana cara melakukan sesuatu dengan benar. Maklumi ketika hasilnya belum baik atau memang benar-benar masih salah. Bila hal ini terjadi, lakukankan bersama dengan ananda (tidak mengambil alih), sambil menunjukkan cara yang benar dan melatihnya secara bertahap sampai ananda mampu melakukannya sendiri dengan sempurna. Insya Allah rasa percaya diri ananda akan muncul ketika dia mampu melakukan banyak hal sendiri. (4) Biarkanlah ananda bercerita apa saja, jadilah pendengar yang mengerti. Jangan terlalu terkejut dengan pemilihan katanya yang mungkin kurang tepat, namun tanyakan kontennya pelan-pelan. Jangan terjebak untuk selalu ingin menasehati dan melakukan segala hal dengan cepat. It takes time. Hal ini diharapkan akan memunculkan kepercayaan ananda kepada ayah dan bunda, dan ananda akan terhindar dari bohong dan lebay hanya karena takut dimarah, takut dikritik dan disalahkan. Ingat dalam hal demikian ayah bunda bukanlah sahabat anak, melainkan orangtua yang bersahabat. (5) Jangan campur adukkan masalah emosional-sosial ini dengan nilai-nilai di sekolah, karena akan timbul kerancuan pada pola penyelesaiannya. Ayah dan bunda tidak perlu terlalu mencemaskan masalah prestasi akademik ananda, karena bila masalah percaya diri dan kemandiriannya selesai, gairah belajar ananda juga akan meningkat (6) Sering-seringlah berkomunikasi dengan guru kelasnya untuk mengetahui perkembangan kesehariannya di sekolah. Tentunya ananda tidak perlu mengetahui hal ini, karena akan merasa tidak dipercaya dan dimata-matai. (7) Bangun terus komunikasi yang bebas dari jangan dan tidak boleh, bebas dari menekan, bebas dari interogasi, dan bebas dari menyalahkan pihak lain, baik dengan ananda maupun anggota keluarga lainnya. (8) Cobalah untuk mendekatkan ananda dengan salah seorang teman, baik di rumah maupun di sekolah, tanpa memaksanya bila dia tidak suka. (9) Sisipkan doa khusus untuk ananda di setiap sholat ayah dan bunda, dengan diawali pernyataan bahwa ayah dan bunda mensyukuri kehadiran ananda di tengah-tengah keluarga. Pujilah perilaku dan pencapaian ananda sekecil apapun di depan Allah, dan betapa ridlo bunda kepada ananda. Insya Allah ridlo bunda akan mejadi jalan indah bagi ananda. Tentunya tidak akan ada obat yang paling mujarab untuk mengatasi masalah yang sudah menimbun bertahun-tahun. Perlu diuraikan satu per satu. Memohonlah kepada Allah agar senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah besar ini. Semoga bunda berkenan melakukannya. Wassalam.