Home / Artikel / Kapan Anak Bisa “Bermedsos”?

Kapan Anak Bisa “Bermedsos”?

Dr. Dhiah Saptorini, S.E, M, Pd.

(Kepala Sekolah SD Plus Al-Kautsar Malang)

 

“Hari gini nggak punya akun medsos? Keciaaann deh lu.” Mungkin saja kalimat pendek itu menjadi salah satu pendorong untuk bermedsos ria.

Sosial media atau akrab disebut med-sos hampir mampu memosisikan diri menjadi kebutuhan primer. Bagaimana tidak, setiap individu sekarang punya sosial media, dari yang muda sampai yang tua. Facebook, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Pinterest, Tumblr, Flickr, Likedln, Ask.Fm, youtube adalah sederetan sosial media yang cukup melekat dengan keseharian kita.

Banyak fungsi dari sosial media, tergantung orang yang menggunakan. Umumnya digunakan untuk bersosialisasi, chat, bisnis, dan menambah teman.

Mudahnya mendapatkan akses bahkan tanpa diminta dan dicari- membuat serbuan sosial media seolah tak terbendung lagi. Demam sosial media melanda semua orang tanpa batasan usia, mulai dari anak-anak sampai orang lansia. Banyak orang tidak bisa berpisah jauh dari perangkat gadgetnya, karena tidak bisa terhubung dengan sosial medianya.

Beberapa dampak positif yang sering dijadikan pembenaran orangtua mengijinkan (baca: membiarkan) anaknya memiliki akun sosial media diantaranya:

  • Bisa menambah wawasan, entah itu soal perkembangan jaman, berita, atau informasi lainnya.
  • Mendukung proses belajar, karena pada kurikulum 2013 siswa dituntut untuk bergerak aktif mencari materi sendiri walaupun sudah memiliki pegangan buku paket, salah satunya melalui jaringan internet.
  • Bisa menambah teman.
  • Menambah rasa percaya diri, karena biasanya di facebook dan twitter memiliki halaman atau postingan yang memotivasi seseorang.
  • Supaya tidak “gaptek”

Sedangkan dampak negatif yang telah terdeteksi pada anak-anak yang memiliki akun sosial media antara lain:

  • Melakukan hal buruk seperti membully dan mengejek, misalnya chatting atau komentar menggunakan kosa kata yang “kotor” dan itu menjadi kebiasaan
  • Lebih berani mengungkapkan kata-kata tidak santun karena anak merasa aman tidak berpapasan dengan orang yang membuat postingan atau status.
  • Terjadinya tindak kriminal seperti penculikan dan penipuan karena biasanya orang yang belum dewasa dan pengguna sosial media pemula akan mudah tergoda dengan kata kata orang lain yang menjajikan suatu hal
  • Mulai mengenal paham-paham radikal
  • Mengubah kepribadian ketika anak terlalu sering menggunakan atau bahkan bergantung pada sosial media
  • Menjadi dewasa lebih cepat karena berinteraksi dengan orang yang bukan sebayanya
  • Dapat menyebabkan anak-anak terkena Sindrom Phubbing dimana anak terlalu sibuk dengan gadget sehingga tidak mempedulikan orang-orang yang berada di dekatnya
  • Dan masih banyak dampak negatif lainnya

 Kapan anak mulai boleh masuk dalam jejaring sosial?

Hampir semua orangtua yang pernah berbincang dengan saya, tidak dapat menyebutkan batasan penggunaan sosial media berdasarkan ukuran usia. Bahkan ada yang dengan mantap, ringan menjawab “semua itu tergantung pola asuh dalam keluarga”, tanpa memerinci pola asuh seperti apa. Tampak sama sekali tidak ada kekhawatiran tentang “bahayanya” dunia maya bagi tumbuhkembang anak-anak. Kalau memang bersifat kondisional, lalu mengapa penyedia sosial media melakukan pembatasan usia bagi penggunanya? Berikut batasan usia yang ditetapkan untuk pengguna beberapa sosial media.

  • facebook 13+
  • twitter 13+
  • instagram 13+
  • whatsapp 13+
  • youtube 13+
  • snapchat 13+
  • path 18+
  • tinder 18+

Sebagian besar anak yang berusia dibawah batasan tersebut dianggap belum memiliki pola pikir matang. Mereka hanya mengetahui bahwa punya akun medsos itu akan membuatnya tampak keren, dan apa yang ditulisnya akan dilihat oleh orang banyak. Mereka belum memahami benar bahwa setiap tindak-tanduk manusia pasti ada konsekuensinya tersendiri, termasuk di dunia maya.

Misalnya, anak mengirimkan komentar merendahkan untuk seorang selebgram. Mereka belum menyadari benar bahwa apa yang ia lakukan merupakan tindak cyberbullying, yang dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Atau skenario terburuknya, ia mengunggah foto pribadinya yang kurang pantas atas dorongan teman-teman onlinenya, atau karena meniru idolanya yang berpose seperti itu.

Itulah sebabnya perlu ada pembatasan usia di media sosial. Dan yang pasti tidak ada sosial media yang membolehkan anak dibawah usia 13 tahun memiliki akun.

Bahkan ketika anak telah melewati batasan usia yang ditentukanpun, belum tentu anak menunjukkan kesiapan untuk memiliki akun sosial media sendiri. Orangtua tetap harus mengawasi anak saat menggunakan media sosialnya.

Idealnya, orangtua mendampingi saat anak diijinkan mendaftar ke sosial media untuk pertama kalinya. Dengan catatan, orangtua harus benar-benar memahami seluk beluk sosial media yang akan digunakan tersebut. Melarang anak-anak serta remaja untuk tidak melakukan sesuatu justru seakan menyuruh mereka melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi.

Bagi orangtua yang merasa “ketinggalan jaman” dan “kalah canggih” dengan anak-anak, tidak perlu serta merta menyerahkan keputusan pada anak. Tetaplah mengomunikasikan tentang pilihan sosial medianya tersebut. Sikap “mau tahu” dan bukan “merasa” harus selalu tahu (baca: kepo) sangat penting untuk membangun komunikasi positif dan rasa saling percaya antara orangtua dan anak.

Setidaknya, perlu ada kesadaran dari para orang tua bahwa medsos adalah ranah yang cukup berbahaya bila tidak digunakan sebagaimana mestinya.

 

About udin

Check Also

INDAHNYA BERBAGI, GELAR SANTUNAN 124 ANAK YATIM

MALANG – Wajah sumringah penuh kegembiraan terpancar dari wajah 124 anak yatim saat menghadiri undangan …

Leave a Reply