Home / Materi Parenting

Materi Parenting

10 KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN ORANGTUA

(Edisi 1)

Tidak ada pendidik yang mendidik anak hal  keburukan. Orangtua adalah pendidik utama bagi buah hati mereka. Mendidik bukan saja merupakan konsekuensi logis dalam status sebagai orangtua, yang lebih esensial adalah menjalankan amanah Allah SWT sehingga tugas mendidik pada dasarnya adalah tugas keTuhanan. Namun, selalu saja timbul masalah dalam proses mendidik, terutama hasil didikannya tidak selalu sama dengan niat dan keinginan pendidiknya. Mengeluh dan menimpakan kesalahan pada lingkungan di luar keluarga adalah jalan pintas bagi orangtua untuk menenangkan hati, diri, dan pikirannya sementara waktu. Kondisi putra-putri tercinta perlu kearifan dalam menerima karena siapa tahu tanpa disadari para orangtua telah terjebak pada kesalahan dalam mendidik.

  1. Menanam ranjau mental.

Ranjau mental yaitu pesan-pesan tidak sehat yang disampaikan orangtua kepada anak-anaknya yang dapat berdampak negatif dan destruktif sepanjang masa pertumbuhan anak menjadi dewasa. Ranjau mental tersebut berupa: (1) menjadi yang terbaik dalam segala hal vs melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Banyak orangtua mendorong anak-anaknya ke satu bidang dengan berbagai alasan. Mungkin si orangtua memiliki keunggulan di bidang tertentu dan ingin anaknya menjadi jiplakan dirinya. Mungkin juga orangtua memiliki kekurangan di bidang tertentu sehingga ingin anaknya mengimbangi kekurangan itu; (2) diri saya adalah prestasi saya. Antara sukses dan gagal, yang terpenting adalah anak tahu bahwa mereka dicintai dan diinginkan; (3) emosi negatif adalah buruk. Sebenarnya bukan emosi negatifnya yang buruk tetapi bagaimana cara mengekspresikan emosi negatif tersebut. Banyak orangtua yang tidak bisa menerima bila anak mengekspresikan emosi negatif mereka karena faktor orangtua, tetapi akan mendukung berlebihan bila disebabkan oleh faktor dari luar orangtua. Dengan alasan tidak ingin anaknya bersedih, kecewa, atau marah banyak orangtua yang justru menanamkan pesan bahwa anak tidak boleh memiliki emosi negatif; (4) semua orang harus menyukai saya. Seorang anak yang dikondisikan untuk berada pada wilayah menyesuaikan dengan standar orang lain akan tertekan bila mendapati dirinya tidak memenuhi standar tersebut; (5) jangan melakukan kesalahan dan meminta pertolongan adalah salah. Tidak ada kesalahan, maka tidak akan ditemukan kebenaran. Masalahnya bukan hanya pada berusaha tidak membuat kesalahan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana solusi, cara memperbaiki kesalahan, memetik pelajaran dari kesalahan yang menyebabkan kegagalan

  1. Menunggu anak berperilaku buruk.

Banyak orangtua terlalu sibuk sehingga lupa memberikan pujian, atau memberikannya dengan tidak tulus. Anak tidak suka diabaikan dan ingin diperhatikan. Tetapi dengan alasan terlalu sibuk, justru orangtua baru memperhatikan saat anak sudah berperilaku buruk dan sudah melakukan kesalahan. Sehingga banyak anak justru merasa dengan berperilaku buruklah mereka akan mendapatkan perhatian orangtua. Banyak orangtua lebih memperhatikan hal-hal negatif dari anaknya dan bukan pada hal-hal positifnya. Hal positif menjadi sesuatu yang langka karena kita selalu mengabaikannya, dan baru mencari-carinya bila perilaku buruk muncul

  1. Tidak Konsisten.

Konsistensi adalah cara penting untuk menolong anak mengembangkan rasa aman dan terjamin. Banyak alasan yang digunakan orangtua, mulai terbatasnya waktu, kesibukan, stres, tidak tega, atau dengan teori-teori yang bisa membenarkan inkonsistensi itu.  (1) Rutinitas yang konsisten; (2) disiplin yang konsisten

  1. Tidak Menginginkan komunikasi terbuka.

Banyak orangtua yang menikmati menjadi orangtua yang (1) otoriter; (2) penceramah; (3) suka menyalahkan; (4) suka menggampangkan. Kemampuan berkomunikasi dengan anak seharusnya diawali dengan kemauan untuk mendengarkan. Komunikasi terbuka akan meminimalisir adu kekuatan anatra orangtua dan anak.

  1. Memainkan peran sebagai pemberes masalah.

Orangtua merasa harus selalu hadir menjadi pemberes masalah yang dihadapi anak. Hal ini justru akan menumpulkan keterampilan pemecahan masalah secara mandiri pada diri anak. Biarkan anak belajar konsekuensi logis, tanpa harus memecahkan masalah untuk mereka, kecuali yang menyangkut masalah keamanan.

———-o0o———-

 

10 KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN ORANGTUA

(Edisi 2)

  1. Kita ini adalah orangtua vs mereka adalah anak-anak.

Dalam hal ini orangtua seolah memiliki kekuasaan lebih terhadap anak. Adakan pertemuan keluarga dan bentuk tim yang kompak. Kerjasama sebagai tim akan mengurangi konflik antarsaudara dan antara orangtua dan anak.

  1. Pendisiplinan yang destruktif atau kontraproduktif.

Dalam setiap keluarga, orangtua pasti akan mengalami situasi yang menuntut mereka melakukan tindakan disiplin. Mendisiplinkan dilakukan jika dalam kondisi tidak marah. Gunakan disiplin pada saat yang tepat. Hindari penghinaan, dan membuat hukuman yang bisa dilaksanakan, atau dengan memberikan pilihan-pilihan Tujuan yang terpenting  bukanlah semata-mata ketaatan, melainkan untuk mengajar anak-anak menjadi orang dewasa yang independen, bertanggungjawab, dan bahagia.

  1. Lakukan seperti yang saya katakan dan bukan seperti yang saya lakukan

Membuat anak melakukan sesuatu seperti yang kita katakan mungkin saja cepat membuahkan hasil, namun tidak bertahan lama. Anak akan cepat berubah melupakan perkataan orangtua bila mereka tidak melihat orangtuanya berbuat seperti yang mereka katakan. Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Berikan anak teladan yang pantas, karena apa yang dilakukan orangtua berpengaruh lebih besar daripada yang dikatakan. Orangtua bisa menjadi model perilaku positif ataupun negatif untuk anak-anaknya. Anak-anak dan remaja mungkin saja terpengaruh oleh teman bergaulnya dan media, tetapi umumnya akan mengadopsi nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang dikomunikasikan oleh orangtuanya.

  1. Mengabaikan kebutuhan khusus

Seberapa banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak mereka mempunyai kebiasaan dan berperilaku yang membutuhkan perhatian dan bimbingan khusus. Banyak orangtua yang tidak memperhatikan atau bahkan mengingkarinya ketika melihat anaknya mulai terlambat tidur karena harus melakukan ritual tersendiri, senang menghitung apapun yang lewat didepannya, sulit berkonsentrasi, atau berlebihan selera makan, stress, depresi. Disinilah tugas orangtua untuk  memahami kondisi khusus anaknya, sehingga dapat memberikan bimbingan sesuai dengan kondisi tersebut.

  1. Lupa untuk bersenang-senang

Orangtua sering lupa bagaimana rasanya menjadi seorang anak kecil. Mereka terjebak dalam kesibukan sehari-hari untuk mencari nafkah dan membesarkan anak-anak, sehingga tidak dapat menjalani hidup bersama anak-anaknya. Mereka tidak menyadari bahwa anak-anak dapat memberikan pelajaran yang berharga. Anak-anak dapat menunjukkan hal-hal yang menakjubkan dan menggembirakan.

———o0o———

 

PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP KESEHATAN MENTAL

 Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan sosial dan perkembangan sosial yang optimal. Pendidikan merupakan proses pembelajaran agar menciptakan manusia yang memiliki kemampuan sosial yang optimal antara individu dengan masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

Dalam pendidikan, pendidik memberikan suatu pengajaran atau ilmu kepada peserta didik dengan metode ataupun perilaku. Pendidikan tidak hanya terjadi dalam lingkungan sekolah, tempat kursus atau masyrakat saja namun pendidikan juga terjadi dalam lingkungan rumah tangga (keluarga). Apakah dengan pendidikan yang diterima dapat memberi dampak positif seperti rajin, berperilaku baik, sopan dan sebagainya, atau memberi dampak negatif seperti malas, egois, keras kepala dan sebagainya. Pendidikan serta pengalaman yang diberikan dengan baik bahkan telah ditanamkan sejak kecil akan menjadikan mental yang sehat.

Anak merupakan amanah bagi orang tuanya, dia masih suci laksana permata, baik atau buruknya perkembangan anak, amat bergantung kepada baik atau buruknya perjalanan spiritual, emosional, dan intelektual kedua orangtuanya. Karena ketiganya akan mewujud dalam pembiasaan yang diberikan kepadanya. Keluarga merupakan aset yang sangat penting, individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan dengan keluarga. Begitu menurut fitrahnya, menurut budayanya, dan begitulah perintah Allah SWT. Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya sebab akan selalu melibatkan interaksi yang paling bermakna, berkenaan dengan nilai yang sangat mendasar (Djawad Dahlan, dalam Jalaluddin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, 1994:49).

Keluarga mempunyai peranan penting karena dipandang sebagai sumber pertama dalam proses sosialisasi. Keluarga juga berfungsi sebagai transmitter budaya, atau mediator sosial budaya anak. Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya, dan pengembangan ras manusia. Jika mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan, dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapatmemenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-bilogis, maupun sosiopsikologisnya.Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembanganemosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan itu diperoleh apabila keluarga dapatmemerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang dan mengembangkan hubungan yang baik di antaranggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek, dan keinginan untuk menumbuhkembangkan anak yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antarnggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gapcommunication, dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mentalillness) bagi anak.

———o0o———

 

FUNGSI KELUARGA

Mengkaji lebih jauh tentang fungsi keluarga ini, dapat dikemukakan bahwa secara sosiopsikologis, keluarga berfungsi sebagai, (1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya; (2) Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis; (3) Sumberkasih sayang dan penerimaan; (4) Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik; (5) Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial di anggap tepat; (6) Membantu anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan; (7) Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan, motorik, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri; (8) Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat; (9) Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi; dan (10) sumber persahabatan (teman bermain) anak, sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.

Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga itu dapat diklasifikasikan kedalam fungsi-fungsi biologis, ekonomis, edukasi, sosialisasi, proteksi, rekreasi, dan religius. Pengokohan penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga merupakan landasan fundamental bagi perkembangan kondisi atau tatanan masyarakat yang damai dan sejahtera. Namun sebaliknya, apabila terjadi pengikisan atau erosi nilai-nilai agama dalam keluarga, atau juga dalam masyarakat, maka akan timbul malapetaka kehidupan yang dapat menjungkirbalikkan nilai-nilai kemanusiaan.

            Pada saat anak sudah masuk usia taman kanak-kanak, didiklah mereka (melalui pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan) tentang berbagai aspek kehidupan yangpenting bagi perkembangan kepribadiannya yang mantap, seperti (a) mengajar rukun iman dan rukun Islam, mengajar dan membiasakan ibadah salat, memberikan contoh dalam membayar zakat atau infak, mengajar membaca Alquran, dan doa-doa; (b) melatih danmemberi contoh tentang cara merawat kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan,mandi, gosok gigi, makan dan minum yang teratur, membuang sampah pada tempatnya,memelihara kebersihan dan kerapihan rumah; (c) memberi contoh tentang bertutur kata yang sopan (sesuai dengan bahasa ibunya); dan (d) mengajar dan memberi contoh, teladan tentang tata krama (etika) bergaul dengan orang lain.

            Unsur-unsur keluarga yang dipandangberpengaruh itu adalah menyangkut keberfungsian, dan perlakuan keluarga.

  1. Keberfungsian keluarga. Seiring dengan perjalanan hidupnya yang diwarnai oleh faktorinternal (kondisi fisik, psikis, dan moralitas para anggota keluarga), dan faktor eksternal (perubahan sosial budaya), maka masing-masing keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya (fungsional-normal), namun ada juga keluarga yang mengalami keretakan atau ketidakharmonisan(disfungsional-tidak normal).
  2. Pola hubungan orang tua-anak (sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak).

Ada lima prinsip effective parenting, yaitu (a) Menyusun standar (aturan perilaku) yang tinggi, namun dapat dipahami. Dalam hal ini anak diharapkan untuk berperilaku dengan cara yang tepat sesuai dengan usianya.; (b) Menaruh perhatian terhadap perilaku anak yang baik dan memberikan reward (ganjaran). Perlakuan ini perlu dilakukan sebagai pengganti dari kebiasaan orang tua pada umumnya, bahwa mereka suka menaruh perhatian kepada anak pada saat anak berperilaku menyimpang, namun membiarkannya ketika melakukan yang baik; (c) Menjelaskan alasannya (tujuannya), ketika meminta anak untuk mengerjakan sesuatu; (d) Mendorong anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang lain; (e) Menegakkan aturan secara tegas dan konsisten.

———o0o———

 

ANTARA KEMANDIRIAN DAN KEBEBASAN

Cukup banyak orangtua yang menganggap bahwa membatasi atau meniadakan kebebasan anak-anak merupakan cara mendidik yang baik. Mereka menganggap bahwa anak-anak tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, karena anak-anak belum mempunyai pemahaman yang cukup. Sehingga bila diberi kebebasan sedikit saja, niscaya akan disalahgunakan.

Orangtua semacam ini pada dasarnya sedang memaksakan pemikirannya pada anak dan memonopoli seluruh keputusan yang berkaitan dengannya. Orangtua berusaha mengendalikan anak dalam berbagai hal seperti makan, minum, bermain, tidur, dan aktivitas lainnya. Mereka ingin membentuk kehidupan anak sesuai dengan pemikirannya sendiri. Apapun yang diputuskan oleh orangtua anak harus melakukannya tanpa syarat. Lalu bila keputusan mereka ternyata keliru, si anak harus berheti melakukannya saat itu juga dan tidak boleh mengeluh. Para orangtua semacam ini tidak membolehkan anak-anaknya ikut campur dalam upayanya mengasuh mereka.

Memang cara mengasuh seperti itu memungkinkan anak patuh dan segan pada orangtuanya. Namun anak akan tumbuh menjadi sosok penakut dan tidak punya rasa percaya diri. Naluri mencipta dan menggagas paa diri anak juga mandeg. Mereka tak akan punya keberanian untuk memikul tugas sulit dan penting di pundaknya. Mereka juga tak akan mampu jadi pemimpin  karena terbiasa diperintah menanggung perlakuan yang tidak disukainya.

Disisi lain dewasa ini banyak penganjur kebebasan penuh bagi anak-anaknya. Para orangtua disarankan untuk membiarkan anak-anaknya bebas bertindak sesuai hasrat dan keinginannya sendiri. Karena menurut para penganjur tersebut, dengan cara ini anak akan tumbuh dengan pikiran yang mandiri. Faktanya adalah anak-anak yang diberi kebebasan seperti ini, justru tidak mempercayai apapaun yang mereka lakukan. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang mementingkan diri sendiri, mudah tersinggung, berwatak keras, tidak santun, dan cenderung menentang. Bahkan anak-anak yang diasuh dengan cara seperti itu mampu merampas hak-hak orang lain.

Ada banyak faktor yang menyebabkan orangtua memberikan kebebasan mutlak pada anak-anak mereka. Ada yang karena sudah budaya dalam keluarganya, atau mereka pernah menerima perlakuan yang terlalu keras dan ketat. Bisa juga karena ketidaktahuan dan keengganan untuk mencari tahu, atau mendapat informasi dari sumber yang tidak tepat. Bahkan ada yang karena keletihan selepas bekerja, dan banyak hal yang harus dilakukan, sehingga memberikan kebebasan mutlak hanya supaya anak-anak tidak mengganggunya.

Kedua pola asuh tersebut tentunya tidak tepat, karena memang mengandung banyak unsur kesalahan. Jalan yang terbaik adalah dengan memberikan kebebasan selektif. Allah SWT telah menganugerahkan umat manusia perbedaan naluri dan perasaan yang membentuk karakter seseorang, untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya. Naluri tersebut adalah rasa cinta, benci, berani, takut, dan sebagainya.

Rasa takut bermanfaat untuk menghindar dari bahaya. Rasa marah membantu bila menyaksikan ketidakadilan. Ketekunan dibutuhkan untuk menuntut ilmu. Seseorang yang tidak memiliki naluri takut dan marah akan menjadi sosok yang rendah diri, sehingga tidak dibenarkan menekan naluri anak. Agama Islam memberikan perhatian khusus pada kebutuhan kebebasan, tetapi dengan pembatasan-pembatasan. Misalnya, anak boleh saja menunjukkan naluri kemarahan saat membela diri, tetapi tidak punya kebebasan untuk merusak barang di sekitarnya, atau mengumbar kata-kata kasar dan menyakitkan untuk melampiaskan nalurinya itu. Oleh karenanya orangtua seyogyanya merancang pola asuh yang mempertimbangkan usia, kecerdasan, kekuatan, dan perasaan anak.

Ada dua kategori perbuatan anak: 1) perbuatan yang diinginkan untuk dilakukan, dan 2) perbuatan yang dilarang dilakukannya. Pertama orangtua harus menentukan batasan dari masing-masing perbuatan itu. Baru anak diberikan kebebasan penuh untuk melakukan semua yang diinginkan, dengan sekali-sekali memberikan bimbingan bila diperlukan. Dalam melakukan hal-hal yang diinginkan anak juga diberi arahan untuk berpikir sebelum bertidak. Sebaliknya, anak harus benar-benar dicegah dari perbuatan yang dilarang baginya. Aturan-aturan untuk anak harus ditentukan secara hati-hati dengan takaran kadar kekuatan tubuh, jiwa, dan pikirannya, agar tidak merugikan anak.

Dengan menerapkan cara ini, kebebasan anak tidak dikekang, kemampuannya tidak dihambat. Orangtua seyogyanya bersikap tegas dalam menyatakan kepada anak  apa yang mampu dilakukannya dan apa yang sama sekali tidak boleh dilakukannya. Di sisi lain, orangtua juga harus berusaha menekan perasaan dan emosinya, menghilangkan keragu-raguan dan sikap was-was, sehingga dapat memahami tanggungjawabnya dantak akan ragu dalam memenuhi kewajibannya. Yang pasti, kedua orangtua harus saling bekerjasama dalam menghilangkan perbedaan pandangannya yang berkaitan dengan anak. Perbedaan pandangan orangtua akan menimbulkan keraguan dalam benak anak.

———o0o———

 

TIPE ORANG TUA YANG ANAKNYA RENTAN JADI KORBAN BULLYING

 Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tua anak korban aksi bullying? Marah dan sedih sudah pasti. Bahkan reaksi lebay seperti melampiaskan pada berbagai pihak sering jadi alternatif untuk sedikit menghibur diri bahwa kesalahan bukan sepenuhnya ada pada diri orang tua. Tapi pernahkah berpikir bahwa kemungkinan ada pengaruhnya juga dari cara pengasuhan mereka sejak kecil? Umumnya karakter khas anak yang rentan menjadi korban bullying memiliki sifat tertutup, pemalu, penakut, dan cenderung memiliki bentuk fisik berbeda dari ukuran teman seusianya. Entah berbadan kecil atau malah lebih besar dari umumnya. Ternyata, menurut salah seorang konselor dan terapis di sebuah Biro Konsultasi Psikologi, karakteristik orang tua termasuk pola asuhnya menjadi faktor utama anak rentan menjadi korban bullying.

Lalu tipe orang tua seperti apa yang memicu anaknya jadi korban bullying?

  1. Orang tua yang jarang meluangkan waktu bersama anak

Setiap orang tua memiliki kewajiban-kewajiban yang membuat mereka sibuk, tetapi beda cerita saat orang tua tidak mampu membagi porsi yang seimbang antara urusan pekerjaan dan rumah tangga. Akibatnya, waktu berkualitas untuk anak berkurang sehingga si anak merasa tak ada keharusan untuk berbagi dan bercerita pada orang tuanya. Padahal, jika orang tua mau berusaha meluangkan waktu dan memosisikan diri sebagai pendengar yang baik, kasus bullying dapat Iebih mudah ditangani.

  1. Orang tua yang terlalu cuek dan menganggap sepele

Walaupun kedengarannya aneh, tapi ada saja orang tua dengan sifat seperti ini. Kembali lagi, mungkin ada pengaruhnya dari cara asuh orang tua mereka dulu. Biasanya mereka hanya menenangkan tanpa memberi solusi. Paling banter hanya mengeluarkan kata-kata seperti, damkan saja, cuek saja, nanti juga berhenti sendiri. Anak pun merasa digantung dan kehilangan sosok orang tua yang seharusnya menjadi sosok tempat mengadu dan mencari perlindungan. Bukan berarti orangtua kemudian membesar-besarkan masalah juga. Berlakulah proporsional.

  1. Orang tua yang terlalu ikut campur

Kebalikan dan poin 2, tipe orang tua ini justru memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

Contoh, mungkin anaknya hanya dibercandai ringan, belum menjurus bullying tetapi

orang tua sudah kalang kabut, bahkan mengambil tindakan ekstrim seperti

mendatangi anak yang dianggap membulli, orangtua anak, atau sekolah, dan pastinya

marah-marah sebagai wujud rasa sayang dan perhatian yang sangat besar.

Lebih jauh lagi ketika ditelusuri, maka anak pembulli bisa dipastikan merupakan korban

pembullian sebelumnya. Biasanya dari perlakuan orangtua, saudara, kakak kelas, orang yang

Iebih dewasa maupun teman sebaya, dengan kadar pengaruh yang berbeda-beda.

 

Untuk itu, sangat penting untuk mengenali dan memahami betul karakter anak. Dengan begitu, orang tua paham apa yang harus dilakukan dan bagaimana menanganinya. Jadilah sahabat si anak, jangan pernah biarkan mereka merasa sendiri.

———o0o———

 

KAPAN ANAK BISA BERMEDSOS?

 Hari gini nggak punya akun medsos? Keciaaann deh lu. Mungkin saja kalimat pendek itu menjadi salah satu pendorong untuk bermedsos ria.

Sosial media atau akrab disebut med-sos hampir mampu memosisikan diri menjadi kebutuhan primer. Bagaimana tidak, setiap individu sekarang punya sosial media, dari yang muda sampai yang tua. Facebook, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Pinterest, Tumblr, Flickr, Likedln, Ask.Fm, youtube adalah sederetan sosial media yang cukup melekat dengan keseharian kita.

Banyak fungsi dari sosial media, tergantung orang yang menggunakan. Umumnya digunakan untuk bersosialisasi, chat, bisnis, dan menambah teman.

 

Mudahnya mendapatkan akses bahkan tanpa diminta dan dicari- membuat serbuan sosial media seolah tak terbendung lagi. Demam sosial media melanda semua orang tanpa batasan usia, mulai dari anak-anak sampai orang lansia. Banyak orang tidak bisa berpisah jauh dari perangkat gadgetnya, karena tidak bisa terhubung dengan sosial medianya.

 

Beberapa dampak positif yang sering dijadikan pembenaran orangtua mengijinkan (baca: membiarkan) anaknya memiliki akun sosial media diantaranya:

  • Bisa menambah wawasan, entah itu soal perkembangan jaman, berita, atau informasi lainnya.
  • Mendukung proses belajar, karena pada kurikulum 2013 siswa dituntut untuk bergerak aktif mencari materi sendiri walaupun sudah memiliki pegangan buku paket, salah satunya melalui jaringan internet.
  • Bisa menambah teman.
  • Menambah rasa percaya diri, karena biasanya di facebook dan twitter memiliki halaman atau postingan yang memotivasi seseorang.
  • Supaya tidak gaptek

Sedangkan dampak negatif yang telah terdeteksi pada anak-anak yang memiliki akun sosial media antara lain:

  • Melakukan hal buruk seperti membully dan mengejek, misalnya chatting atau komentar menggunakan kosa kata yang kotor dan itu menjadi kebiasaan
  • Lebih berani mengungkapkan kata-kata tidak santun karena anak merasa aman tidak berpapasan dengan orang yang membuat postingan atau status.
  • Terjadinya tindak kriminal seperti penculikan dan penipuan karena biasanya orang yang belum dewasa dan pengguna sosial media pemula akan mudah tergoda dengan kata kata orang lain yang menjajikan suatu hal
  • Mulai mengenal paham-paham radikal
  • Mengubah kepribadian ketika anak terlalu sering menggunakan atau bahkan bergantung pada sosial media
  • Menjadi dewasa lebih cepat karena berinteraksi dengan orang yang bukan sebayanya
  • Dapat menyebabkan anak-anak terkena Sindrom Phubbing dimana anak terlalu sibuk dengan gadget sehingga tidak mempedulikan orang-orang yang berada di dekatnya
  • Dan masih banyak dampak negatif lainnya

———o0o———

 

KAPAN ANAK MULAI BOLEH MASUK DALAM JEJARING SOSIAL?

Hampir semua orangtua yang pernah berbincang dengan saya, tidak dapat menyebutkan batasan penggunaan sosial media berdasarkan ukuran usia. Bahkan ada yang dengan mantap, ringan menjawab semua itu tergantung pola asuh dalam keluarga, tanpa memerinci pola asuh seperti apa. Tampak sama sekali tidak ada kekhawatiran tentang bahayanya dunia maya bagi tumbuhkembang anak-anak. Kalau memang bersifat kondisional, lalu mengapa penyedia sosial media melakukan pembatasan usia bagi penggunanya? Berikut batasan usia yang ditetapkan untuk pengguna beberapa sosial media.

  • facebook 13+
  • twitter 13+
  • instagram 13+
  • whatsapp 13+
  • youtube 13+
  • snapchat 13+
  • path 18+
  • tinder 18+

Sebagian besar anak yang berusia dibawah batasan tersebut dianggap belum memiliki pola pikir matang. Mereka hanya mengetahui bahwa punya akun medsos itu akan membuatnya tampak keren, dan apa yang ditulisnya akan dilihat oleh orang banyak. Mereka belum memahami benar bahwa setiap tindak-tanduk manusia pasti ada konsekuensinya tersendiri, termasuk di dunia maya.

Misalnya, anak mengirimkan komentar merendahkan untuk seorang selebgram. Mereka belum menyadari benar bahwa apa yang ia lakukan merupakan tindak cyberbullying, yang dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Atau skenario terburuknya, ia mengunggah foto pribadinya yang kurang pantas atas dorongan teman-teman onlinenya, atau karena meniru idolanya yang berpose seperti itu.

Itulah sebabnya perlu ada pembatasan usia di media sosial. Dan yang pasti tidak ada sosial media yang membolehkan anak dibawah usia 13 tahun memiliki akun.

Bahkan ketika anak telah melewati batasan usia yang ditentukanpun, belum tentu anak menunjukkan kesiapan untuk memiliki akun sosial media sendiri. Orangtua tetap harus mengawasi anak saat menggunakan media sosialnya.

Idealnya, orangtua mendampingi saat anak diijinkan mendaftar ke sosial media untuk pertama kalinya. Dengan catatan, orangtua harus benar-benar memahami seluk beluk sosial media yang akan digunakan tersebut. Melarang anak-anak serta remaja untuk tidak melakukan sesuatu justru seakan menyuruh mereka melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi.

Bagi orangtua yang merasa ketinggalan jaman dan kalah canggih dengan anak=anak, tidak perlu serta merta menyerahkan keputusan pada anak. Tetaplah mengomunikasikan tentang pilihan sosial medianya tersebut. Sikap mau tahu dan bukan merasa harus selalu tahu (baca: kepo) sangat penting untuk membangun komunikasi positif dan rasa saling percaya antara orangtua dan anak.

Setidaknya, perlu ada kesadaran dari para orang tua bahwa medsos adalah ranah yang cukup berbahaya bila tidak digunakan sebagaimana mestinya.

———o0o———

 

MENGENALI DAN MEMBANGUN POLA ASUH ANAK

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pelajaran (pendidikan). Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan secara kodrati. Suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak

Anak-anak tumbuh dalam keluarga yang berbeda-beda.  Beberapa orang tua mengasuh dan mendidik anak mereka dengan benar. Orang tua lainnya bersikap kasar atau mengabaikan anaknya. Beberapa anak orang tuanya bercerai,  anak lainya tinggal bersama orang tua yang lengkap tanpa perceraian. Anak lainnya ikut keluarga angkat. Beberapa keluarga hidup dalam kondisi ekonomi yang berkecukupan, beberapa keluarga lainnya hidup dalam kondisi ekonomi sederhana. Situasi yang bervariasi ini akan mempengaruhi perkembangan anak dan mempengaruhi murid didalam dan diluar lingkungan sekolah .

Ada 4 bentuk gaya pengasuhan yaitu

  1. Authoritarian Parenting

Merupakan gaya asuh yang bersifat menghukum dan membatasi. Dimana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid, menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial.

  1. Authoritative Parenting

Merupakan gaya asuh yang positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka. Perbincangan saling tukar pendapat diperbolehkan dan orang tua bersikap membimbing dan mendukung. Menghasilkan anak yang kompeten secara sosial. Anak cenderung mandiri, tidak cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi.

  1. Neglectful Parenting

Gaya asuh dimana orang tua tidak terlibat aktif dan tidak perduli dengan kehidupan anaknya, orang tua hanya meluangkan sedikit waktu. Hasilnya anak anak sering bertindak tidak kompeten secara sosial. Mereka cendrung kurang bisa mengontrol diri, tidak cukup termotifasi untuk berprestasi

  1. Indulgen Parenting

Gaya asuh dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberikan batasan atau kekeangan pada perilaku mereka. Orang tua ini sering membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya, bahwa orang tua model ini percaya bahwa kombinasi dukungan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan membentuk anak kreatif dan percaya diri.

Termasuk yang mana pola asuh dalam keluarga anda? Pola asuh tidak berdiri sendiri, melainkan selalu bersanding dengan pola didik. Bila pola asuh lebih pada bangunan interaksi dan komunikasi, maka pola didik lebih pada sistem edukasi dalam keluarga. Hasil pola asuh bisa dipandang sebagai outcome, sedangkan hasil pola didik bisa dipandang sebagai output.

Ada beberapa macam respon orangtua terhadap outcome dan output tersebut. Ada yang selalu merasa tidak puas dengan hasil, ada yang merasa tidak pernah ada masalah dengan hasilnya, ada yang selalu melemparkan kesalahan pada lingkungan di luar keluarga, ada yang menerima hasil dengan terpaksa, ada juga yang sibuk mencari solusi untuk mengatasi atau mengantisipasi permasalahan terkait hasil asuhan dan didikannya.

Dua pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua terkait pola asuh dan pola didik adalah terkait dengan hasilnya. Pertanyaan pertama adalah apakah merasa ada masalah pada anak baik outcome maupun outputnya. Pertanyaan kedua adalah apakah orangtua sungguh-sungguh ingin meminimalisasi permasalahan tersebut.

Bila kedua pertanyaan sudah dijawab ya, maka ada beberapa hal yang perlu dipersiapan dan dilakukan oleh orangtua,

  1. Pandanglah anak sebagai sosok yang terlibat dalam berbagai sistem lingkungan dan dipengaruhi oleh sistem-sistem itu. Lingkungan itu antara lain sekolah dan guru, orangtua dan saudara kandung, komunitas dan tentangga, teman sebaya, media, agama, dan budaya.
  2. Perhatikan hubungan antara sekolah dan keluarga. Jalin hubungan ini melalui saluran formal dan informal.
  3. Sadari arti penting dari komunitas, status sosioekonomi, dan budaya dalam perkembangan anak. Konteks sosial yang luas ini bisa sangat mempengaruhi perkembangan anak.

Yang patut kita renungkan adalah bahwa apapun yang kita goreskan pada anak saat ini, akan senantiasa mengiringi perkembangannya, dan baru akan kita tuai hasilnya jauh dihari depan. Kenali dan didiklah anak sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya, bukan karena didorong keinginan menjadikan anak seperti orang lain. Sukses adalah sebuah proses bukan hasil.