Home / Artikel / Tipe Orang Tua yang Anaknya Rentan Jadi Korban Bullying

Tipe Orang Tua yang Anaknya Rentan Jadi Korban Bullying

Dr. Dhiah Saptorini, S.E, M, Pd.

(Kepala Sekolah SD Plus Al-Kautsar Malang)

Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tua anak korban aksi bullying? Marah dan sedih sudah pasti. Bahkan reaksi lebay seperti melampiaskan pada berbagai pihak sering jadi alternatif untuk sedikit menghibur diri bahwa kesalahan bukan sepenuhnya ada pada diri orang tua. Tapi pernahkah berpikir bahwa kemungkinan ada pengaruhnya juga dari cara pengasuhan mereka sejak kecil? Umumnya karakter khas anak yang rentan menjadi korban bullying memiliki sifat tertutup, pemalu, penakut, dan cenderung memiliki bentuk fisik berbeda dari ukuran teman seusianya. Entah berbadan kecil atau malah lebih besar dari umumnya. Ternyata, menurut salah seorang konselor dan terapis di sebuah Biro Konsultasi Psikologi, karakteristik orang tua termasuk pola asuhnya menjadi faktor utama anak rentan menjadi korban bullying.

Lalu tipe orang tua seperti apa yang memicu anaknya jadi korban bullying?

  1. Orang tua yang jarang meluangkan waktu bersama anak

Setiap orang tua memiliki kewajiban-kewajiban yang membuat mereka sibuk, tetapi beda cerita saat orang tua tidak mampu membagi porsi yang seimbang antara urusan pekerjaan dan rumah tangga. Akibatnya, waktu berkualitas untuk anak berkurang sehingga si anak merasa tak ada keharusan untuk berbagi dan bercerita pada orang tuanya. Padahal, jika orang tua mau berusaha meluangkan waktu dan memosisikan diri sebagai pendengar yang baik, kasus bullying dapat Iebih mudah ditangani.

  1. Orang tua yang terlalu cuek dan menganggap sepele

Walaupun kedengarannya aneh, tapi ada saja orang tua dengan sifat seperti ini. Kembali lagi, mungkin ada pengaruhnya dari cara asuh orang tua mereka dulu. Biasanya mereka hanya menenangkan tanpa memberi solusi. Paling banter hanya mengeluarkan kata-kata seperti, damkan saja, cuek saja, nanti juga berhenti sendiri. Anak pun merasa digantung dan kehilangan sosok orang tua yang seharusnya menjadi sosok tempat mengadu dan mencari perlindungan. Bukan berarti orangtua kemudian membesar-besarkan masalah juga. Berlakulah proporsional.

  1. Orang tua yang terlalu ikut campur

Kebalikan dan poin 2, tipe orang tua ini justru memiliki kekhawatiran yang berlebihan. Contoh, mungkin anaknya hanya dibercandai ringan, belum menjurus bullying tetapi orang tua sudah kalang kabut, bahkan mengambil tindakan ekstrim seperti mendatangi anak yang dianggap membulli, orangtua anak, atau sekolah, dan pastinya marah-marah sebagai wujud rasa sayang dan perhatian yang sangat besar.

Lebih jauh lagi ketika ditelusuri, maka anak pembulli bisa dipastikan merupakan korban pembullian sebelumnya. Biasanya dari perlakuan orangtua, saudara, kakak kelas, orang yang Iebih dewasa maupun teman sebaya, dengan kadar pengaruh yang berbeda-beda.

Untuk itu, sangat penting untuk mengenali dan memahami betul karakter anak. Dengan begitu, orang tua paham apa yang harus dilakukan dan bagaimana menanganinya. Jadilah sahabat si anak, jangan pernah biarkan mereka merasa sendiri.

About SD Plus Al-Kautsar Malang

Check Also

Kapan Anak Bisa “Bermedsos”?

Dr. Dhiah Saptorini, S.E, M, Pd. (Kepala Sekolah SD Plus Al-Kautsar Malang)   “Hari gini …

Leave a Reply